Arti Kelumpuhan Diri


“Wal ashri inna al insaana lafii khusrin. Illa aladziina ‘aamanuu wa’amilushoolihaati watawa shoubilhaqqi watawaa shoubishibri “

 (Demi masa) sesungguhnya manusia itu benar-benar dalm kerugian. Kecali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehat supaya mentaati kebenaran dan supaya menetapi kesabaran ( QS : Al-ashr 1-3)

“Alkhij laanu kulla al khijlaani an tatafarrogho mina asyawaa ghili tsumma laa tatawajjahu ilaiihi wa taqillu ‘awaa  ‘ikuquka tsumma laa tarro halu ilaiihi “ (syarah al hikam / Hikmah ke 254)

“Sungguh satu kelumpuhan bila engkau sunyi dari kesibukan, tetapi engkau tidak datang menghadap- NYA dan sedikit yang menghambatmu tetapi engkau tidak berjalan menuju kepada-NYA”

 Dari penjelasan ini mengingatkan manakala seseorang telah terlepas dan sunyi dari kesibukan duniawi disebabkan karena pada dirinya  sudah ada segala yang diperlukan guna menutupi dan memenuhi kebutuhan pokok hidupnya, serta sudah sedikit pula hambatan di dalam diri dan jiwanya sehingga keleluasaan untuk ibadah dan taqorrub sudah terbuka luas dihadapannya.

Tetapi meski semua itu telah ada namun dia tetap berada dalam kelengahan,kelalaian dan kehampaan, bermalas-malasan dlm ibadah,santai dalam waktu luang,kosong jiwanya dari dzikrullah, menandakan betapa orang tersebut berada di dalam kelumpuhan jiwa yang teramat sangat. Lumpuh pada  jiwa dan raga, jasmani dan rohaninya, serta lumpuh karsa dan karya,lumpuh hasrat dan semangatnya. Inilah orang yang mati sebelum mati dan raganya menjadi kuburan sebelum dirinya dimasukan ke liang lahad.

Seharusnya, ketika watu telah berkurang dari kesibukan duniawi yang menguras tenaga serta fikiraan, hendaklah beralu dan bersegera untuk mengamalkan segala amal sholeh, menyibukan diri dalam ibadah dan segala kegiatan taqorrub yang mengarahkannya untuk datang kehadirat Allah SWT. Terlebih jika jiwanya telah lapang,terlepas dari himpitan dan tekanan batin, tidak ada lagi yang membuatnya pusing dan membuat hati resah , sudah semestinya     lebih banyak lagi untuk membenamkan diri dalam dzikrullah dasn tafakur.

Manakala Tidak demikian halnya, maka sesungguhnya telah berada dalam kelumpuhan, kehampaan dan kesia-siaan, yang mengakibatkan kerugian besar kelak di yaumil akhirat yang akan menimpa.Wallahu’alam bishowab

Sumber : – A;l quran Depag dan terjemahannya/- Kitab Syarah alhikam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s