Bahagiakah Perkawinan Anda??…


       Banyaknya kegagalan dalam perkawinan saat ini sudah seperti hal yang tidak asing lagi di masyarakat. Tidak hanya terjangkit pada rumah tangga orang yang kurang secara financial, akan tetapi juga banyak menjangkiti para eksekutif dan orang –orang yang secara pendidikan diatas rata-rata.

Ikatan perkawinan dianggap seperti perkumpulan orang yang masing-masing mempunyai kebebasan tanpa mau menyatukan pendapat yang berbeda. Ketika berbeda sedikit soal pemikiran atau salah satunya enggan untuk tunduk pada aturan yang di buat oleh pasangannya, atau hal-hal sepele lainnya yang rasanya masih dapat dicarikan jalan keluarnya. Padahal perkawinan itu untuk menyatukan dua hal yang berbeda pada diri pasangan.

Perkataan “Cerai “ menjadi  satu  kata yang mudah terlontar dari mulut, kesakralannya seakan hilang. padahal Padahal rosullullah Muhammad Saw mengatakan, bahwa perkataan cerai itu dapat menggetarkan Arsy-Nya Allah. Lalu ada apa dengan rumah tangga  yang seperti ini ??..

Kegagalan perkawinan biasanya dipicu oleh sebab suami/istri dihinggapi penyakit kejiwaan ( nerotik), dimana salah satunya  atau keduanya tidak tahan terhadap teman hidupnya. Semua perkawinan orang yang sepeti ini bermuara dalam satu hal, yakni tidak ada kematangan emosi. Hal inilah yang kadang terlihat pada kelakuan suami-istri yang kekanakan.

Kebahagian dalam perkawinan akan terujud  apabila kematangan emosi kedua belah pihak telah cukup. Sebab itu orang yang secara emosional masih belum terkendali, sebaiknya menunda dahulu rencana untuk menikah sampai merasa yakin telah terpenuhi persyaratan kematangan emosi. Rosullullah Muhammad mengajarkan kepada para pemuda yang belum sanggup menikah untuk melakukan puasa sunnat agar dapat mengontrol emosinya.

Istri yang emosional tak berselang lama setelah pernikahan akan menunjukan ketidak mampuannya memikul tanggung jawab perkawinan yang serasi dan stabil, sehingga timbul himpitan dalan hatinya yang disebabkan oleh beban kehidupan keluarga dan segudang permasalahannya, hal inilah yang terkadang bisa menghancurkan mahligai perkawinan.

Ada beberapa poin yang dapat digolongkan sebagai tanda suami/istri terjangkit penyakit nerotik (Orang yang menderita satu atau lebih gejala gangguan kejiwaan), antara lain ;

1. Istri berperangai seperti laki-laki (kelaki-lakian). Ia akan mempunyai banyak keinginan untuk menguasai dan mengendalikan orang lain (dlm hal ini adalah suami). Istri yang memiliki perangai ini akan banyak membantah, baik ia bekerja atau tidak.  Suami baginya menempati tempat  nomor dua dalam kehidupanya.

Hal ini disebabkan karena istri memiliki rasa rendah diri, sehingga dia ingin membuktikan kesanggupannya untuk bersaing  dalam segala hal kepada siapa saja, terutama suami. Akan melangkah jauh melewati batas kewajaran sebagai seorang istri bahkan berujung kepada penyimpangan.

Jika batas – batas kewajaran telah dilanggar maka ia akan membuat rintangan bagi sang suami, sehingga akan terhambat untuk mencapai keserasian dalam perkawinan.

2. Istri /suami yang hesteris. Istri / suami seperti ini akan selalu mengeluh dengan apa yang dihadapinya, meski hal yang sepele (selalu membesar-besarkan masalah). Tujuannya hanyalah mencari sensasi agar mendapatkan perhatian dan kasih sayang pasangannya. Orang yang berperilaku seperti ini biasanya sejak kecil memiliki emosional yg tinggi, terlalu dimanja dan dipenuhi segala permintaanya yang cendrung tidak realistis. Jika dibiarkan akan membuat pusing pasangannya, dengan banyaknya permintaan diluar kemampuannya dan akan membuat pasangan menjadi tertekan. Jika pasangan kurang dapat mengontrol emosi maka akan sering timbul percekcokan karena ketidak sanggupan pasangan untuk memenuhi permintaanya dan mengambil jalan pintas untuk berpisah.

3. Isteri narsime, yang berusaha menarik perhatian. Wanita narsis sangat cinta pada dirinya dan  selalu berusaha menjadi pusat perhatian orang. Dia akan merasa senang dengan ketenarannya di tengah orang banyak. Ia mudah tergoda dan dia tidak senangbila suami menampakan kecemburuannya. Tapi sebaliknya dia tidak dapat menerima jika suami memberikan perhatianya pada orang lain.

4. Istri kekanak-kanakan. Selalu terikat dengan keluarganya(terutama ibunya). Pribadinya tidak dewasa, jika merasa kurang diperhatikan suami atau cekcok kecil, di marahi suami maka ia akan lari keorangtuanya dan berkeluh kesah. Sehingga tak jarang suami akan dibuat tujuh keliling dengan ocehan mertuanya, akibat pengaduan anak(istri)nya.

Istri seperti ini tidak mampu mengamboil keputusan, dan tidak mampu mengendalikan rumah tangga, lengah, tidak teratur, tidak dapat mengatur keuangan. Sebenarnya ia tetap ingin menjadi anak-anak, karena didapatinya kedewasaan itu memerlukan tenaga yang besar, ia menderita karena kelesuan mental.

5. Suami kekanak-kanakan. Dia beranggapan perkawinan itu seperti halnya hubungan anak dengan ibunya. Selalu mencari perhatian lebih dari pasangannya, senang bermanja-manja, peka, sembrono. Jika sakit ringan pun akan sangat membutuhkan perhatian dan penjagaan yang berlebih.

Dalam cumbu rayu sangat kasar, menyusahkan istrinya di saat kurang tepat, berlebihan acuhnya dalam masalah hubungan suami istri, jika marah tampak seperti anak kecil yang manja. Secara emosi ia berlebihan, pencemburu, tak henti-hentinya membandingkan istri dengan ibunya atau saudara perempuannya, biasanya inilah yang menjadi  pemicu keretakan hubungan suami istri. Karena wanita butuh laki-laki yang normal secara kejiwaan dan mampu menerima kelebihan dan kekurangan pasangan apa adanya, tidak suka direndahkan. <<>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s