Fiqih


BAB I : THOHAROH (BERSUCI)

Bersuci dan segala seluk beluknya dalam hukum islam termasuk dalam bagian ilmu dan amalan yang penting. Sebab kesempurnaan sholat tergantung dari kesempurnaan seseorang dalam bersuci, baik itu dari hadast kecil ataupun  besar, yang terdapat pada badan (tubuh), pakaian , dan tempat akibat dari adanya najis.

Alah berfirman : “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan Dia mencintai orang-orang yang suci ( bersih rohani dan jasmani) “. QS –Al-Baqoroh : 222.

Beberapa perkara yang perlu diperhatikan dalam urusan bersuci, sebagai berikut :

  1. Alat bersuci, seperti air, tanah , dan sebagainya
  2. Cara (kaifiat)  bersuci
  3. Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disuckan
  4. Benda yang wajib disucikan
  5. Sebab sebab atau keadaan yang menyebabkan wajibnya bersuci

Bersuci meliputi dua bagian, yakni:

  1. Bersuci dari hadast. Bagian ini hanya dilakukan tertentu pada bagian tubuh, seperti mandi, berwudhu, dan tayamum.
  2. Bersuci dari najis. Baagian ini meliputi badan, pakaian dan tempat.

MACAM – MACAM PEMBAGIAN  AIR

I.       Air yang suci dan mensucikan.

Kategori air seperti ini terdapat pada air yang jatuh dari langit atau berasal dari dalam bumi, air ini sah serta boleh digunakan  untuk keperluan bersuci dan keperluan lain, seperti  untuk diminum dan membersihkan benda-benda yang lain,  asalkan belum berubah keadaanya. Seperti air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air es yang telah hancur(meleleh), embun, air dari mata air.

Dasarnya Firman Allah : “ Diturunknnya air bagimu dari langit agar kamu dapat bersuci dengannya”.  (Qs Al- Anfal : 11).

Hadist nabi ; “ Dari abu hurairah, berkata beliau : Telah bertanya seorang laki-laki kepada Rosullullah saw, kata laki0laki itu :” Ya rosullullah, kami berlayar di lautan dan kami hanya membawa air sedikit, jikan kami pakai air itu unuk berwudhu kami tidak dapat minum, bolehkah kami berwudhu dengan air laut ? Jawab rosullullah:” Air laut itu suci lagi mensucikan, bangkainya halal di makan “. ( HR Mutafakunalaih, menurut keterangan tirmidzi hadist ini hasan sahih )

Ketika Nabi ditanya bagaimana hukumnya sumur “ Budha’ah”, beliau berkata : “ Airnya tak dinajisi sesuatu papun “ . ( HR ahmad dan tirmidzi)

Sedangkan perubahan air yang tidak menghilangkan keadanya atau sifat suci mensucikannya,baik perubahan itu terjadi pada salah satu sifatnya atau semua sifatnya (bau, rasa, warna), sebagai berikut :

1. Berubah dengan sebab tempatnya, seperti air yang tergenang atau mengalir di batu belerang.

2.  Berubah karena lama berada pada suatu tempat, seperi air kolam.

3. Berubah karena sesuatu terjadi padanya, seperti berubah karena ada ikan atau lumut.

4.  Berubah karna ada endapan tanah yang suci atau dikarenakan suatu hal yang sulit untuk mencegahnya, seperti kolam atau sumur yang terletak di dekat pepohonan sehingga airnya kejatuhan dedaunannya yang akan mengendap menjadi kotoran.

 II.    Air suci, tapi tidak mensucikan. Artinya air itu memiliki zat yang suci tapi tidak sah digunakan untuk berwudhu atau membersihkan sesuatu. Kategori ini terbagi tiga :

1. Air yang telah berubah salah satu sifatnya (bau, rasa , warna) dengan sebab bercampur  benda yang suci.seperti air kopi, air teh dll.

2.Kurang dari dua qullah ( P x L x T = 1,5 hasta ), telah terpakai untuk berhadast atau menghilangkan najis.sedang air itu tidak berubah sifatnya (bau, rasa , warna) dan banyaknya (qullah nya).

3.Air yang berasal dari pohon-pohonan atau buah-buahan, seperti air dari hasil menyadap pohon kayu, seperti pohon nira dan air buah kelapa.

 III. Air yang bernajis. Kategori air ini terbagi dua macam :

1.Telah berubah salah satu sifatnya (rasa, bau, warna) karena najis.Air ini tidak boleh di gunakan untuk berwudhu meski airnya sdikit atau banyak, dan hukumya seperti najis.

2.Tidak berubah salah satu sifatnya (rasa, bau, warna). Jika jumlahnya kurang dari dua qullah (  p x l x t = 1, 5 hasta ) tidak boleh dipakai lagi, hukumnya sama dengan najis. Jika jumlahnya melebihi dua qullah hukumnya tetap suci mensucikan.

Dasarnya  hadist nabi : “ Air itu tidak dinajisi sesuatu, kecuali jika telah berubah rasanya atau warnanya atau baunya “ ( HR Ibnu majah dan baihaqi).

Berkata Rosullulah saw : Idzaa kaanal maa’u qullataiini lam yunajissuhu syaii’un “ Apabila cukup air dua qullah, tidaklah dinajisi oleh sesuatu apapun “. ( Mutafaqun ‘alaih).

IV. Air yang makruh dipakai. Yaitu air yang telah terjemur oleh matahari dalam bejana, selain bejana emas atau perak, air ini makruh dipakai untuk badan, tapi tidak untuk pakaian. Kecuali air yang terjemur bukan pada bejana yang berkarat, seperti air sawah, air kolam, boleh digunakan.

Dasarnya hadist nabi ;  Dari aisyah ra, sesungguhnya ia telah memanaskan air pada cahaya matahari, maka berkata rosullulah kepadanya ;’ janganlah engkau perbuat demikian, ya aisyah, sesngguhnya air yang dijemur itu dapat menimbulkan penyakit sopak “. ( Hr Baihaqi ).<>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s