Iedul Qurban : Menyembelih Sifat Binatang Dalam Diri Manusia


Baru saja kita umat islam melaksanakan hari raya idul qurban, hari dimana umat islam yang mampu secara financial diuji oleh allah  kerelaannya untuk mengorbankan sebagian harta yg dimiliki  dalam memenuhi perintah allah seperti yang tercantum dalam surat alkautsar ayat 1-3 , :

” 1. Sesungguhnya kami telah memberikan padamu nikmat yang banyak

2. Maka dirikanlah sholat karena tuhanmu dan berkorbanlah

3. Sesungguhnya orang -orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.”

mencontoh ketaatan yang telah di tunjukan oleh nabiallah  Ibrahim AS, mengorbankan apa yang disayangi dalam diri dan hidupnya dan mengikuti perbuatan Rosullullah Muhammad SAW.

Tanpa ragu – ragu nabi ibrahim AS melakukan penyembelihan terhadap putra kesayangannya ismail, yg kemudian diangkat derajatnya oleh allah menjadi salah seorang nabi. Belahan jiwa yang selama  pernikahannya berlangsung sampai usia uzur selalu dinanti dan harapkan. Meski pada akhirnya allah menggantinya dengan seekor Qibasy ( domba),  Allahuakbar  walillahhilhamd…

Berqurban adalah syariat yang allah berikan pada masing masing umat dengan tujuan agar manusia  banyak menyebut nama allah sebagai rasa syukur atas rizki yang telah dikaruniakan kepada mereka , juga  sebagi ujian kepasrahan diri dalam menjalankan perintah allah. Sebagai bukti ketaatan  seorang hamba terhadap Allah, zat yang menciptakan dan memberinya banyak hal dalam hidup ini. Sebagaimana di firmankan dalam surat al-hajj ayat 34.

 “ walikulli ummatin ja’alna mansakanliyajkurus mallahi ‘alaa marojaqohum min bahhiimatil’anaami failaahukum ilaahun waahidun falahu aslimuu wabasyiril mukhbitiina”

“ Dan bagi tiap tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan allah kepada mereka, maka tuhanmu ialah tuhan yang maha esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh ( kepada allah).”

bagi yang mampu untuk berkurban tapi enggan melakukannya sama halnya dengan mereka yang menentang  sebagian syariat allah, dalam hal ini syariat untuk berkurban, Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh allah pada ayat 67 surat al-hajj  yang artinya  :

“ Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan,maka janganlah sekali kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serullah kepada (agama) tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.

Ada dua makna binatang yang di korbankan, pertama binatng dalam arti yang sebenarnya , yakni seekor qibasy (domba) seperti yang di contohkan oleh nabi Ibrahim tersebut dan yang kedua adalah hakekat binatang itu sendiri yakni sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia . Dimana  sifat kebinatangan adalah sulit atau sukar diatur, berbuat sekehendak dirinya tanpa peduli dengan keinginan sang majikannya. seperti yang telah di gambarkan dalam alqur’an, bagaikan seekor kera yang memiliki sifat serakah atau seekor anjing yang tidak mau bergeming dari keadaannya semula meskipun telah diberi peringatan  ataupun tidak, bahkan bagi manusia yang enggan berbuat taat allah telah memvonis dengan kesesatan melebihi binatang ternak.

Binatang adalah mahluk allah yang diciptakan hanya di berikan naluri, berbeda dengan manusia yang dalam penciptaannya diberikan Akal, sehingga manusia dapat mempertimbangkan dahulu  apa yang akan diperbuatnya, bertolak belakang dengan aturan allah ataukah tidak, rugi untuk dirinya kelak atau tidak. Dengan  berkurban manusia diharapkan membunuh sifat binatang  yang ada dalam dirinya, sehinga selalu berbuat taat dan selalu tunduk pada aturan allah, sehinga dalam kehidupan ini berjalan sesuai keinginan allah sebagai sang khalik.

Berqurban sebagai salah satu ibadah yang harus dilandasi oleh ilmu, agar apa yang di lakukan benar, berdasarkan atas keyakinan yang dilandasi oleh perintah yang jelas.  Jika beribadah kerena ikut-ikutan maka ibadah tersebut akan merepotkan pelakunya kelak di kemudian hari , sebagiman firman NYA

wala taqfu ma laysalaka bihi ilmun, inna sam’a wal bashoro wal fuada kullu ulaa’ika kanaa anhu mas uulaan “.

“Dan janganlah kamu melakukan sesuatu tanpa ilmunya (pengetahuan ) tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihata dan hati kelak akan dimintakan pertanggung jawaban ”.

Juga hendaklah dilandasi oleh ketaqwaan  serta keikhlas pada allah SWT. dengan demikian maka pemberian tertinggi ,yakni ridho allah pasti akan didapat. Bahkan dengan tegas allah menyatakan, bahwa bukanlah kurban dalam bentuk unta atau domba yang disembelih yang akan mendatangkan ridhonya, tapi ketakqwaan hamba- NYa lah yang akan mencapainya.

Lan yanalallooha luhumuhaa walaa dimaa’uhaa walaakin yanaaluhuttaqwaa minkum kadzaalika sakhorohaalakum litukabbiruullaaha ‘ala maahadaakum wabasyiril muhsiniina.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah allah telah menundukan nya untuk kamu supaya kamu mengagungkan allah terhadap hidayahnya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” . ( QS – Alhajj : 37) <>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s