Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar


Dalam Al-Qur’an banyak di jumpai ayat berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar, yang menunjukan tentang kedudukan hukumnya menurut ajaran agam islam.Diantaranya  dalam Surat Al- Imran : 104

“ Hendaklah kamu tergolong ummat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar,Mereka itulah orang- orang yang beruntung “.

Ahli tafsir mempunyai dua pendapat tentang sifat perintah atau unsur hukum yang terkandung dalam ayat tersebut. Pendapat yang pertama mengatakan, bahwa hukum melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar ialah Fardhu kifayah. Sebab di dalam ayat tersebut dijelaskan “ Hendaklah kamu tergolong ummat…..”. Diantara ahli tafsir yang berpendapat demikian adalah jalal sayuti, Zamachsyari  dll.

Berdasar atas pendapat itu mereka menetapkan bahwa apabila sudah ada satu golongan ummat yang melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar itu maka gugurlah kewajiban itu terhadap orang-orang yang lain. Meski demikian dalam pandangan golongan pertama, tingkat atau derajat fardhu kifayahnya tidaklah seperti fardhu kifayah dalam menyembayangkan jenazah, yang gugur kewajiban menyembahyangkannya terhadap orang – orang yang mengetahui dan menyaksikannya  jika sudah ada beberapa orang yang melaksanakannya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa hukumnya ialah fardhu ‘aini, yaitu wajib bagi setiap pribadi muslim dan muslimah.Yang memiliki pendapat  demikian  diantaranya adalah Muhammad Abduh. Timbulnya perbedaan pendapat itu, kecuali karena perbedaan penilaian tentang porsi atau inti persoalannya, adalah karena interpretasi yang berlainan mengenai kata-kata “minkum” pada ayat diatas.

Menurut kamus bahasa arab, perkataan “min” menunjukan dua hal. Pertama, pengertian itu maksudnya adalah menunjukan “setengah” atau sebagian yang disebut “lit tab’idh”. Kedua, arti tersebut menunjukan pada jenisnya, sedangkan jangkauannya adalah “keseluruhan “ yang dinamakan “lit tabjin” (menurut gramatika bahasa arab).

Berdasarkan Zahirnya ayat diatas, maka perkataan “minkum”  diartikan oleh golongan pertama bahwa perintah Allah itu tidaklah mengenai keseluruhan ummat islam, tapi hanya sebagian saja. Dari analisa itulah maka keluar pendapat  yang mengatakan bahwa hukum Amar ma’ruf nahi munkar itu ialah fardhu kifayah. Artinya, jika sudah ada satu golongan atau sebagian yang mengerjakannya, maka bebaslah orang yang lain dari pekerjaan tersebut.

Adapun kata “minkum” menurut pendapat kedua adalah “ min bayinah”, yang hanya menunjukan tentang  jenis yang dikenakan perintah tersebut . Maka berdasar pendapat itu tiap –tiap orang atau tiap – tiap pribadi asalkan masuk dalam golongan ummat islam mendapat perintah wajib untuk melakukan Amar ma’ruf nahi munkar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s