Kilas Balik Perjalanan Romadhon


Suatu ketika, saat selesai dari sebuah peperangan yang di menangkan kaum muslimin (perang Badar), Rosulullah Muhamad SAW berkata pada para sahabatnya ,” Roja’na min jihaadil asghori ilal jihaadil akbari  ( Kita baru saja kembali dari perang /jihad kecil, menuju perang/jihad besar “ mendengar sabda rosullullah itu para sahabat bertanya “ akan adakah lagi perang yang lebih besar dari perang badar ini ? Rosullullah menjawab, “ ada, yaitu perang melawan hawa nafsu “.

Itulah sebuah gambaran dari seorang pemimpin Umat pada kaumnya , mengabarkan bahwa ada sebuah pertarungan yang teramat berat dibandingkan dengan sebuah peperangan nyata. Bila seseorang yang kuat /gagah sekalipun belum tentu mampu mengalahkan hal tersebut tanpa dasar keimanan yang kokoh dalam hatinya. Lalu kapan pertempuran itu dapat kita temukan ?, mungkin itulah pertanyaan yang  timbul.

Hawa nafsu,,, ya itulah musuh utama manusia, sesuatu yang tidak tampak namun nyata adanya, bahkan kekuatannya mampu mengalahkan seorang yang paling kuat dan kekar tubuhnya diantara semua manusia di muka bumi ini sekalipun. Tapi tidak bagi seorang manusia yang bertubuh kecil kerempeng namun kuat dan kokoh  keimanannya pada Allah SWT.

Sebuah perumpaan dapat kita ambil,  saat satu pertempuran yang baru saja kita lakukan  di bulan yang teramat mulia, bulan ramadhan ( bulan puasa). Dalam bulan ini semua umat islam pasti tahu akan kewajiban yang harus di jalankannya, bahkan saling mengejar janji allah sebagai mana dalam sebuah hadist : “ Man shooma romadhoona iimaanan wahtisaaban ghufirolahu maa takoddama min djanbihi “ ( barang siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap ridho Allah SWT, maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu ). Namun banyak yang tidak menyadari telah terjebak dalam persekongkolan dengan Hawa nafsu tersebut. Berpuasa,  namun masih mengikuti hawa nafsu yang harus di lawannya, dan ketika romadhon berakhir merasa dirinya telah memenangkan pertempuran itu. Hal inipun telah di wanti-wantikan oleh Rosululloh Muhammad SAW dalam hadistnya “ Rubba shoimin hadzuhu min shiyaamihil djuu,u wal athos” ( Betapa banyak orang bershaum, tapi hanya mendapat lapar dan haus saja ).

Kemenangan adalah sebuah hasil yang diraih karena adanya musuh yang dikalahkan. Ketika shaum (berpuasa) sebulan penuh, seorang muslim berperang melawan musuhnya, yakni hawa nafsu. Nafsu yang akan selalu menjerumuskannya hingga jauh dari rahmat Allah. Lalu bila seseorang tidak berpuasa atau berpuasa tapi hanya sebatas menahan makan dan minum saja, layak dikatakan atau di kategorikan sebagai pemenang ??. Rasanya  siapapun dapat mengambil sebuah jawaban dari hadist diatas tadi.

Romadhon mempunyai satu tujuan yang berakhir pada kemuliaan manusia sebagai hamba, akan mengembalikan jatidiri yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT, yakni kembali pada Fitrahnya. Sebagaimana saat semua keturunan nabi Adam AS berada di alam ruh, Firmany – NYA :

“Dan ingatlah, ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka ( seraya berfirman ) : “ bukankah Aku ini Rab mu ? mereka menjawab : “Betul (Engkau Rab kami ), kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu ) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : “ Sesungguhnya kami ( Bani Adam ) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini ( keesaan tuhan )”. ( QS 7 : 172).

Setelah kembali pada fitrahnya, manusia di harapkan mampu menaiki tanggga kedua, yakni  menjadikan dirinya sebagai seorang muslim yang Kaffah (totalitas dalam berislam ) tunduk pada aturan Allah, sebagai mana telah difirmankan -Nya :  “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syaithon itu musuh yang nyata bagimu “ ( QS 2 : 208 ).

Jika mampu menduduki tangga kedua ini, Maka allah akan memberikan sebuah penghargaan kepada para pemenang dengan predikat yang baru, Yakni insan yang bertaqwa. Sebagaimana tujuan dari perintah allah dalam Surat Al – baqoroh  2 : 183 ; “ hai orang-orang yang beriman , diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah di wajibkan atas orang- orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “.

 Lalu ada dimanakah posisi kita saat ini setelah berakhirnya romadhon ?? sebagai pemenang atau orang yang mengaku-ngaku sebagai pemenang ??  adakah semangat perubahan kearah yang lebih baik dalam ketaatan pada allah pada diri kita ??

Benarkah kita  pemenangnya ??? <>

Satu pemikiran pada “Kilas Balik Perjalanan Romadhon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s