Korupsi Yang Sudah Tidak Pandang Bulu


Kasus dugaan korupsi yang menimpa Depag ini sungguh sangat ironis dan tragis. Jika korupsi menimpa departemen lainnya mungkin dianggap masyarakat hal yang biasa, karena di dalamnya banyak orang yang tak tahu dan faham agama. Akan tetapi kalau korupsi itu menimpa institusi agama seperti Depag,  ini sungguh sangat keterlaluan. Orang atau pejabat Depag yang selama ini dikenal publik tahu dan faham agama dan bahkan setiap Jum’at mengisi khotbah  masalah korupsi (baca: mengambil hak orang lain, haram hukumnya) justru tersangkut dugaan korupsi.

 Bagaimana jadinya wajah indonesia lima tahun kedapan, jika institusi agama seperti Depag yang programnya banyak mengusung perbaikan moralitas ummat dan setiap tahun berhaji, tersangkut kasus dugaan korupsi?. Nilai-nilai religiusitas yang selama ini diketahui dan difahami orang-orang beragama dan faham agama hanya dijadikan hiasan yang begitu indah, tapi jauh dari kenyataan. Nilai-nilai religiusitas tereduksi oleh ambisi kedunian yang sifatnya materialistik. Ambisi hidup mewah dan serbah wah menjadikan pemahaman nilai-nilai agama menjadi tumpul-pul. Pemahanan agama diri seseorang tidak mampu melawan godaan dan ambisi kemewahan diri.

Dan apa jadinya generasi bangsa ini, jika lembaga yang paling depan mendidik dan membina moralitas bangsa tersangkut dugaan korupsi. Di negeri ini sepertinya tidak ada institusi yang stiriil dari korupsi. Hampir semua lembaga negara baik itu di pusat dan di daerah berwajah korup. Karena itu tidak salah, jika berbagai survei nasional maupun regional menempatkan Indonesia menjadi salah satu negara terkorup.

Mengapa institusi atau orang yang selama ini rajin mengusung dan kampanye perbaikan moralitas ummat (baca: Depag) sampai tersangkut dugaan korupsi? Ada apa dengan orang dan Depag?. Hal ini setidaknya bisa kita usut dari pemahaman dan praktik keagamaan seseorang. Kita selama berpuluh-puluh tahun mungkin sudah tahu dan faham nilai-nilai agama, ajaran-ajaran agama; mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana dosa dan mana pahala. Bahkan kita sangat begitu hafal dengan dalil-dalil agama yang kita anut, tapi mengapa tersangkut korupsi juga?.

 Sebagai bahan refleksi dan instropeksi, kita mungkin selama ini beragama masih sebatas pemahaman formalistik, belum sampai pada pemahaman agama yang substantif. Formalistik artinya pemahaman agama kita masih sebatas kulitnya saja. Ada kesejangan antara apa yang telah difahami dalam nilai dan ajaran agama, dengan apa yang dipraktikkan. Pemahaman agama semacam inilah yang kemudian melahirkan keshalehan yang sifatnya formal.

Kondisi inilah yang saat ini sedang menimpa bangsa ini, terutama terkait dengan dugaan korupsi di Depag. Haji setiap tahun yang dilakukan orang atau pejabat Depag hanya sekedar dijadikan haji rekreatif dan proyek. Penyelenggaran haji yang merupakan “lahan basah” di Indonesia sudah dimanfaatkan oknum-oknum di Depag untuk mengais keuntungam materi sebanyak-banyaknya. Makna sesungguhnya dari (penyelenggaraan) ibadah haji akhirnya hilang di makan ambisi dan praktik kapitalisme yang begitu masif. Dan ini namanya pemanfaatkan dan eksploitasi agama untuk kepentingan ekonomi elit-elit tertentu.<>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s