Dakwah dan pengertiannya


1. Pengertian Dakwah

Menurut ahli bahasa, perkataan manhaj atau minhâj, menurut Ibn Manzhur, berarti al-tharîq al-wâdhih, jalan yang jelas. Istilah manhaj atau minhâj berasal dari perkataan al-nahj yang berarti al-tharîq al-mustaqim, jalan yang lurus. Secara bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja دعا يدعو دعوة    (da’â – yad’û, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil. Para ulama ahli bahasa menggali makna perkataan da’wah dalam Al-Qur`an secara mendalam. Sementaraitu,menurutHansWehrdalam ADictionaryofModernWrittenArabic perkataan manhaj atau minhâj berarti  way, road, method danprocedure (jalan, cara, metode dan prosesdur).Dengan demikian, manhaj al-da’wah berarti jalan, cara atau metode dakwah.Sementara itu, istilah da’wah merupakan kosa kata Al-Qur`an. Abu Ishaq, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Manzhur berpendapat, ungkapan Al-Qur`an Surah Al-Baqarah ayat 186, دَعْوَةَ الدَّاعِ ,berarti seruan orang yang menyeru, menyatakan bahwa makna da’wah pada ayat tersebut dapat dibagi ke pada tiga bagian. Pertama, mentauhidkan Allah dan memuji-Nya, antara lain dengan ungkapan  لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُ يا  (Ya Allah, tiada tuhan selain Engkau),atau ungkapan   رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ  (Wahai Tuhan kami dan hanya untuk-Mu segala puji). Jika anda menyatakan kedua ungkapan tersebut, maka anda telah menyeru dan atau memanggil-Nya. Kedua, memohon kepada Allah ampunan dan kasih sayang dan segala sesuatu yang mendekatkan kita kepada ampunan dan kasih saying-NYA. Ketiga, memohon  kepada Allah bagian dari kehidupan dunia seperti anak,istri dan harta. Ketiga permohonan ini dimaksudkan agar dapat menguatkan manusia dalam meneguhkan prinsip tauhid serta memuji Allah guna mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya di dunia dan di akhirat.

Dan menurut istilah,da’wah dirumuskan oleh para ulama dengan rumusan yang berfariasi, dan dibuatlah satu ksimpulan sebagai berikut:

1.    Menurut Prof. DR. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Beliau merumuskan, bahwa dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik pada kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakat. [vii]

2     Menurut Prof. H.M. Thoha Yahya Umar, Dakwah dapat dibagi menjadi  dua:

a. Dakwah secara umum adalah ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntutan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menganut, menyetujui, melaksanakan suatu ideologi dan pendapat dan pekerjaan tertentu.

b. Dakwah secara khusus adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana,kepada jalan yang sesuai dengan perintah Tuhan untuk kebahagiaan dan kemaslahatan mereka di dunia dan di akhirat.

3.   Menurut Wardi Bachtiar,Dakwah adalah suatu proses atau upaya mengubah situasi kepada situasi lain menjadi lebih baik dan sesuai ajaran Islam.

4.    Menurut Syaikh Ali Mahfudz,Dakwah ialah memotivasi manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk,memerintahkan mereka berbuat “Amar ma’ruf Nahi mungkar” agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dari beberapa pendapat diatas,bisa kita simpulkan bahwa istilah Dakwah itu dapat di artikan sebagai berikut :

  a.   Dakwah adalah memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat,  dan mengajak masyarakat mengamalkan ajaran Islam.

 b.  Dakwah adalah kegiatan yang direncanakan dengan tujuann mencari kebahagiaan hidup dengan dasar keridhaan Allah

 c.  Dakwah adalah suatu aktivitas yang pelaksanaanya bisa dilakukan dengan berbagai cara atau metode.

 d.  Dakwah adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang bersifat menyeru atau mengajak kepada orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam.

 e.  Dakwah adalah ikhtiar, usaha dan perjuangan secara sungguh-sungguh dalam rangka meningkatkan pemahaman umat terhadap ajaran Islam secara mendalam guna mengubah pandangn hidup, sikap batin dan perilaku umat yang tidak sesuia dengan ajaran Islam menjadi sesuai dengan tuntutan syariat agar memperoleh kebahagiaan hidup dunia akhirat.

 2.      Metodologi (Manhaj) Dakwah Menurut Konsep Al-Qur`an

 Metodologi (manhaj atau minhaj) dakwah dalam Al-Qur`an terdapat di beberapa ayat dan surat. Salah satunya disebutkan dengan tegas dalam Al-Qur`an yang berikut:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.  (Q.S. An-Nahl : 125)

 Dalam menafsirkan ayat di atas Al-Fakhr al-Razi menyatakan, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk mengajak manusia (ke jalan Allah) dengan salah satu dari ketiga metodologi ini, yakni dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan berdebat dengan cara yang terbaik”. Sementara itu, As-Sa’di menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah perintah Allah kepada Rosulullahshollallah.”Hendaklah cara engkau (Muhammad) mengajak manusia, yang Muslim maupun yang kafir, kepada jalan Tuhan-Mu yang lurus dengan memadukan ilmu dan amal”.

 a.       Metodologi Dakwah “Bilhikmah” (dengan Hikmah).

Berdakwah dengan hikmah, menurut As-Sa’dî, adalah ”mengajak setiap individu berdasarkan keadaan dirinya, tingkat pemahaman, tingkat penerimaan, dan kemungkinan individu itu untuk mematuhi seruan dakwah”. ada 4 cara menurut beliau berda’wah secara “hikmah” :

(1)  berdakwah dengan ilmu pengetahuan (yang mencerdaskan), bukan (dengan cara-cara dogmatik) yang membawa kepada kebodohan.

(2) berdakwah dengan cara-cara yang mendekatkan (sasaran dakwah) kepada pengertian dan pemahaman agama yang mendalam.

(3) berdakwah dengan cara-cara yang memungkinan penerimaan terhadap pesan dakwah dengan sempurna.

 (4) berdakwah dengan cara pendekatan fsikologis dan lembut.

MenurutAr-Raghibal-Ashfahani,Dalam “Kitab MufradatAlfadhAl-Qur`an”, karanganya. Bahwa al-hikmah adalah” والحكمة إصابة الحق بالعلم والعقل “  berarti,  “bertindak sesuai dengan kebenaran berdasarkan pengetahuan dan pemikiran (yang mendalam)”. Hikmah menurutnya terbagi dua bagian,Yakni:

1.  “Al-hikmahal-ilahiyyah “, adalahHikmah yang dimiliki  Allah secara mutlak,berarti“Allah mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan yang luas tiada terbatas dan mewujudkannya dengan sangat teratur demi kebaikan dan kepentingan makhluk”.

2. ” Al-hikmahal-insaniyyah.” adalah hikmah yang ada pada diri manusia serta mengandung makna“pengetahuan yang luas tentang segala yang wujud (al-mawjud) secara mendalam kemudian bertindak dan berbuat dengan pemikiran yang mendalam, yakni dengan pengetahuan akal dan qalbu sehingga menghasilkan kebajikan”. Hikmah ini berasal dari Allah sebagaimana disebutkan pada  ayat Al-Qur`an yang berikut:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai kemampuan berfikir mendalam. (Q.S. Al-Baqarah : 269).

 Berdakwah dengan metodologi hikmah atau dakwah yang persuasif dan lembut dapat dirumuskan sebagai ”dakwah yang merangkul bukan dakwah yang memukul”.Ibn Katsir dalam menafsirkan Surah An-Nahl ayat 125 di atas menyatakan, ”Firman Allah tersebut merupakan perintah kepada Rasul-Nya, Muhammad  agar beliau mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah”. Menurut Ibn Jarir, ”mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah itu adalah mengajak mereka kepada Allah dengan cara-cara sebagaimana yang diturunkan Allah kepada beliau di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, yaitu dengan pengajaran atau nasihat yang baik, yang mengandung unsur peringatan dan pelajaran dari kejadian-kejadian yang menimpa manusia, yang mendorong manusia berhati-hati dalam menghadapi hukuman Allah”.

Sementara itu, Al-Fakhr al-Razi menyatakan, ”Metodologi berdakwah itu dapat diringkaskan pada dua model :

1. Jika menyampaikan pesan-pesan dakwah itu dengan menggunakan dalil-dalil yang qath’i(yang pasti, rasional dan mendalam),maka metodologi dakwah tersebut dengan hikmah.

2. jika  penyampaian pesan-pesan dakwah itu dengan menggunakan dalil-dalil yang zhanni(tdk pasti/perbuatan nyata), maka metodologi dakwah tersebut adalah metodologi dakwah al-maw’izhah al-hasanah, dengan nasihat atau pelajaran yang baik.

 MenurutAl-Qurtubi,ayat diatas diturunkan di Makah ketika Rasulullah Muhammad diperintahkan untuk menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah, mengajak mereka kepada agama Allah dan menjalankan syari’at-Nya dengan kasih sayang, lembut dan persuasif, bukan dengan radikal dan kekerasan. Demikian pula sebaiknya kaum Muslimin diberi pelajaran (tentang ajaran Islam) hingga hari kiamat. Pola ini tidak berlaku bagi orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin, sebab kaum Muslimin dibolehkkan menghadapi mereka dengan perang. Sungguhpun dibolehkan menghadapi mereka dengan perang, tetapi jika pola persuasif memungkinkan dalam menghadapi orang-orang kafir, bahkan diduga keras bahwa pola persuasif akan mendorong mereka beriman, maka pola dakwah ini perlu dilakukan tanpa harus perang. Cara dakwah yang demikian ini merupakan metodologi dakwah dengan hikmah.Kebijakan memilih pola dakwah ini merupakan bagian dari meteodologi dakwah dengan hikmah.

Metodologi dakwah dengan pendekatan yang lembut atau persuasif, menurut Ibn Katsir dan Al-Maraghi, tercermin pada perintah Allah kepada Nabi Musa a.s. dan  Nabi Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun yang kejam seperti  pada Surat Thaha: 44 ,yang artinya sebagai berikut:

”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”.

Dengan demikian, essensi metodologi dakwah dengan hikmah, selain terletak pada kekuatan argumentasi yang jelas dengan menggunakan dalil-dalil yang qath’i, yang pasti, rasional dan mendalam, juga terletak pada kecerdasan emosi dan spiritual para juru dakwah. Mereka diharapkan seperti Nabi Musa dan Nabi Harun yang dibimbing langsung oleh Allah melalui wahyu yang diturunkan kepada beliau agar tetap memilih kata-kata yang lembut dan persuasif dalam menyampaikan pesan dakwah kepada Fir’aun, meskipun ia seorang penguasa kejam,seperti dijelaskan pada ayat Al-Qur`an yang artinya sebagai berikut:

“Dan Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka (Fir’aun dan para pembesarnya) berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.” (Q.S. Al-Fajr : 10-12)

 Metodologi dakwah dengan hikmah, yang diperintahkan Allah kepada nabi Muhammad SAW, terutama dengan pendekatan yang lembut dan persuasif, dijelaskan secara  lengkap dan menyeluruh dan muatan makna yang berbobot pada ayat Al-Qur`an yang artinya:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (Q.S. Ali Imran : 159).

Dari ayat di atas, memiliki keterkaitan  yang sangat jelas. Surah Thaha ayat 44 menjelaskan perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar bersifat lembut dalam menyampaikan pesan dakwah kepada Fir’aun, meskipun ia seorang penguasa yang melampaui batas. Sementara itu, Surah Ali ’Imran ayat 159 menjelaskan sikap lemah lembut Nabi  Muhammad SAW kepada kaum Muslimin, khususnya mereka yang telah melakukan kesalahan dan pelanggaran dalam Perang Uhud. Sikap lemah lembut inilah yang menjadi kunci sukses beliau dalam berdakwah,didalam Surah Ali Imran ayat 159 ada 7 kuci sukses beliau dalam berdakwah :

 1) Mendasarkan kegiatan dakwah atas dasar menebar kasih sayang Allah.

2) Senantiasa bersikap lemah lembut dalam menghadapi umat.

3) Bersikap lapang dada sehingga mudah memaafkan kesalahan umat.

4) Membangun komunikasi personal dengan Allah dengan senantiasa memohon agar Allah mengampuni dosa dan kesalahan umat.

5) Bermusyawarah dengan umat dalam merencanakan suatu program aksi.

6) Mengambil keputusan yang tepat dan mantap dalam bermusyawarah dengan kebulatan tekad untuk mewujudkannya.

7) Bertawakal kepada Allah, jika suatu perencanaan sudah dilakukan dengan cermat dan diputuskan dengan hati yang mantap.

 b.      Metodologi Dakwah Bil Maw’izhah al-Hasanah

 Di dalam Al-Qur`an ungkapanالموعظة  (al-maw’izhah) diulang sebanyak sembilan kali. Hal ini belum termasukungkapanyangsatuakarkatadenganالموعظة  (almaw’izhah)seperti وعظت  (wa’azhta), يعظكم   (ya’izhukum), يوعظون (yû’azhûn) dan  الواعظين (al-wâ’izhîn) sehingga keseluruhannya diulang sebanyak 25 kali.

 Ungkapanالموعظة  (al-maw’izhah), menurut Ibn Manzhur, secara kebahasaan berasal dari kata الوعظ   (al-wa’zhu),  العظة  (al-’izhah), dan العظة (al-’azhah) yang berarti  nasihat atau peringatan tentang akibat suatu tindakan atau pilihan. Menurut Ibn Sayyidah, الموعظة  (al-maw’izhah)  adalah engkau memberikan peringatan kepada manusia yang menjadikan kalbunya sejuk, tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan sehingga mendapat pahala, dan menyadari pentingnya meninggalkan kemaksiatan karena takut mendapat hukuman Allah.

Menurut Al-Maraghi, ungkapan َالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ  (al-maw’izhat al-hasanah) pada Surah  An-Nahl ayat 125 di atas, mengandung arti  الدلائل الظنية المقنعة للعامة (berbagi dalil atau argumentasi yang bersifat zhanni yang memberikan kemantapan bagi kebanyakan orang). Pendapat Al-Maraghi tersebut sejalan dengan pandangan Al-Fakhr al-Razi yang menyatakan bahwa, ”Metodologi berdakwah itu pada intinya dapat diringkaskan pada dua model sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.Sedangkan menurut Ahmad Mustafa Al-Maraghi, al-maw’izhah al-hasanah, yakni nasihat atau pelajaran yang baik itu adalah dengan  وترفق بهم بحسن الخطاب   (mendekati sasaran dakwah dengan tutur kata yang baik).

Melengkapi pandangan ini,  menurut Ibn Taymiyyah, pada waktu seorang da’i mendekati sasaran dakwah dengan metodologi  menyampaikan nasihat atau pelajaran dengan tutur kata yang baik (al-maw’izhah al-hasanah), perlu memperhatikan dua hal.

 Pertama, pesan yang terdapat dalam Surah Al-’Ashr ayat 3:

                            وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ()

“  Dan mereka saling nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya tetap dalam kesabaran. “(Q.S. Al-’Ashr : 3).

Pelajaran yang baik serta disampaikan dengan tutur kata yang baik,hendaklah dalam rangka memberikan nasihat kepada sasaran dakwah supaya mengikuti kebenaran dan menjalani hidup dengan tetap dalam kesabaran, namun pada waktu yang sama para da’i hendaklah bersedia dengan lapang dada menyimak pandangan mereka sebagai umpan balik yang juga bernilai nasihat bagi para juru dakwah. Pendekatan ini memberi manfaat ganda, menyampaikan pesan dakwah dengan tutur kata yang santun, dan kedua, bersedia menyimak pandangan mereka untuk meng- evalusi diri.

Kedua, memadukan antar ilmu dengan amal. Sebab,  الخير(al-khayr), kebaikan yang diperjuangkan Islam  itu diperoleh melalui pengenalan (ma’rifah) terhadap Al-Haqq  dan mengikuti jalan-Nya dengan ilmu dan amal, yang sekaligus memperbaiki kualitas ucapan dan perbuatan. Ilmu yang melahirkan  kehendak atau motivasi yang kuat untuk beramal. Ilmu, menurut Ibn Taymiyyah, merupakan dasar atau basis amal (tindakan atau perbuatan), yang juga merupakan sumber pokok motivasi yang kuat dan cinta (al-mahabbah).

Melalui ilmu yang diamalkan akan melahirkan motivasi yang kuat untuk beramal dan mencintai amal, yang merupakan realisasi cinta terhadap Allah. Dengan berbasis pada kekuatan ilmu dan amal, berdakwah, mengajak manusia kepada jalan Allah, dengan metodologi al-maw’izhah al-hasanah,( nasihat atau pelajaran yang baik) akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Sebaliknya, seorang juru dakwah yang hanya mengandalkan kekuatan al-maw’izhah al-hasanah,tanpa dibarengi dengan kekuatan amal perbutan akan kehilangan wibawa dan kekuatan moral dalam menyampaikan pesan dakwahnya.

Perhatikan kecaman Allah kepada Ahli Kitab yang hanya pandai menyuruh manusia melakukan kebaikan, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya, padahal mereka mengetahui ajaran Allah dalam Kitab Taurat.

”Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka apakah kamu tidak berpikir?” (Q.S. Al-Baqarah: 44)

 Ayat ini, menurut Ibrahim al-Biqa’i sebagaimana dikutip oleh M.  Quraish Shihab, mengecam pemuka-pemuka Agama Yahudi, yang sering memberi tuntunan tetapi melakukan sebaliknya. Dalam riwayat disebutkan, bahwa ada orang-orang Yahudi yang menyuruh keluarganya yang telah memeluk Islam agar mempertahankan keyakinan mereka dan terus mengikuti Nabi Muhammad saw. Terhadap merekalah ayat ini diturunkan. Ayat ini dapat juga mencakup kasus lain, bahwa di antara Bani Israil ada yang menyuruh aneka kebajikan, seperti taat kepada Allah, jujur, dan membantu orang lain; tetapi mereka sendiri durhaka, menganiaya, dan berkhianat. Terhadap mereka juga kecaman ayat ini ditujukan.

Singkatnya dakwah dengan metodologi al-maw’izhah al-hasanah dapat dirangkum sebagai berikut:  Menyampaikan ajaran Islam secara lisan maupun tulisan dengan bahasa yang santun dan ramah, serta tutur kata yang baik, dengan kupasan yang populer, mudah dimengerti dan komunikatif, tetapi menyentuh kalbu dan menyadarkan yang lupa, karena cara berdakwahnya memadukan kekuatan ilmu dan amal, serta keteladanan.

 c.       Metodologi Dakwah dengan Mujadalah

 MenurutIbnManzhur,istilah mujâdalah secarabahasaberartiالمناظرة (almunâzharah), perdebatan dan المخاصمة (almukhashamah), pertentanganatau permusuhan. MenurutAlRaghibalAshfahani,istilah mujâdalahsecara bahasa berasal dari kata الجدال (al-jidâl) yang berarti المفاوضة على سبيل المنازعة والمغالبة (al-muifâwadhah ’alâ sabîl al-munaza’ah wa al-mughalabah), yakni ”berunding dengan cara beradu argumentasi guna memenangkan (kebenaran atas kebatilan)”.

Adapun yang dimaksud dengan istilah mujâdalah dalam hadits Nabi adalah mendebat kebatilan dan memenangkan kebenaran atas kebatilan supaya al-haqq (kebenaran) itu muncul dan unggul,dan karenanya perbuatan ini merupakan tindakan terpuji. Hal inilah yang dimaksud dengan firman Allah: وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik).

Sementara itu, ’Abd al-Rahman bin Nashir As-Sa’di, ketika menafsirkan Surah An-Nahl ayat 125 di atas, menyatakan bahwa ”metodologi  mujâdalah dalam berdakwah dilakukan apabila sasaran dakwah memandang bahwa pendapat atau keyakinannya benar, (padahal sebenarnya salah), atau apabila sasaran dakwah mempromosikan kebatilan, maka (dalam keadaan demikian) berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Adapun yang dimaksud dengan cara yang baik (dalam berdebat) adalah dengan menggunakan berbagai metode yang paling efektif untuk bisa diterima oleh mereka, baik secara logika (’aql) maupun berdasarkan nash  Al-Qur`an dan Sunnah yang diyakini sebagai jalan terdekat guna mencapai tujuan, yakni memenangkan kebenaran atas kebatilan. Metodologi mujâdalah dalam berdakwah, menurut As-Sa’di, harus diperhatikan secara seksama supaya tidak menjurus kepada pertentangan dan permusuhan yang menjauhkan dari tujuan utama mujâdalah, yakni mengalirnya hidayah Allah kepada manusia, bukan mencari kemenangan”.

Muhammad ’Ali As-Shâbûnî, ketika menafsirkan ayat وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik), menyatakan: ”Dan berdebatlah dengan mereka yang menolak pesan dakwah dengan metodologi yang lebih baik, baik dengan cara المناظرة  (al-munâzharah), adu argumentasi, maupun dengan cara   المجادلة (al-mujâdalah), perdebatan denganhujjah yang kuat dan argumentasi yang rasional”.

Sejalan dengan pandangan para mufassir di atas, Al-Fakhr al-Râzî berpendapat, Surah An-Nahl ayat 125 di atas mengandung makna perintah Allah kepada Rasulullah shallâllah ’alayhi wa sallam, ”Serulah orang-orang yang mampu berfikir secara sempurna ke dalam agama yang benar (Islam) dengan hikmah, yakni dengan argumentasi yang qath’i dan meyakinkan; ajaklah kebanyakan orang (al-’awwâm) dengan nasihat dan pengajaran yang baik, yakni dengan dalil-dalil yang zhanni, tetapi meyakinkan dan memuaskan; dan berbicaralah tentang Islam dengan mereka yang menolak (kebenaran Islam) dengan mujâdalah yang lebih baik dan lebih sempurna”.[xxxiii] Maksudnya dengan debat yang berkualitas dan beretika, yaitu debat dengan hujjah yang kuat, argumentasi yang rasional dan hati yang dingin.

Ketiga metodologi dakwah yang disebut di dalam Surah An-Nahl ayat 125 di atas, terutama tentang perintah atau keharusan Nabi shallâllah ’alayhi wa sallam dan kaum Muslimin bermujadalah dalam menghadapi kelompok-kelompok yang menolak kebenaran Islam atau menyelewengkan kesucian ajaran Al-Qur`an dan Sunnah dengan debat yang berkualitas dan beretika, diperkuat dengan ayat Al-Qur`an yang artinya sebagai berikut:

”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri”. (Q.S. Al-’Ankabût/29: 46)

 Muhammad Quraish Shihab dalam menjelaskan maksud ayat di atas menyatakan, ”Kata tujâdilû) terambil dara kata جادل (jâdala) yang berarti berdiskusi, yakni berupaya untuk meyakinkan pihak lain tentang kebenaran sikap masing-masing dengan menampilkan argumentasinya. Ayat di atas menggunakan bentuk jamak. Karena itu, ayat ini lebih banyak ditujukan kepada kaum Muslimin, sebab kemungkinan terjadinya mujâdalah dengan cara yang tidak terbaik, hanya dapat diduga datang dari mereka, kaum Muslimin, bukan dari  Nabi Muhammad SAW.

Pada ayat ini, kaum Muslimin dilarang membantah, berdiskusi, dan berdebat dengan Ahli Kitab, orang-orang Yahudi dan Nasrani, menyangkut ajaran agama yang diperselisihkan kecuali dengan cara berdiskusi, serta ucapan yang terbaik, kecuali dengan orang-orang yang berbuat kezaliman di antara mereka, misalnya melampaui batas kewajaran dalam berdiksusi, maka kamu boleh tidak melakukan yang terbaik buat mereka; namun demikian, kalau pun diskusi itu tetap dilakukan, maka lakukanlah dengan cara yang terbaik, sesuai dan setimpal dengan sikap mereka yang zalim itu.

Adapun yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim pada ayat di atas ialah orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, tetapi mereka tetap membantah, membangkang dan tetap menyatakan permusuhan terhadap kaum Muslimin.

Sayyid Qutub memahami penggalan ayat yang berbunyi  إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ(kecuali orang-orang yang berbuat kezaliman di antara mereka) di atas, dalam arti Ahli Kitab yang mengubah kitab suci mereka, berpaling dari tauhid kepada kemusyrikan, karena syirik itu adalah kezaliman yang paling besar. Terhadap mereka, menurut Sayyid Qutub, tidak perlu ada mujâdalah atau berdikusi, tidak juga ada sisi kebaikan buat mereka. Mereka itulah yang diperangi oleh Islam, ketika negara Islam terbentuk di Madinah. Pemahaman Sayyid Qutub tentang kalimat yang dibahas ini, tidak mendapat dukungan banyak ulama. Di dalam Al-Qur`an bahkan ditemukan banyak ayat yang memerintahkan berdiskusi, berdialiog, dan mujâdalah dengan siapa pun dengan cara yang baik, bahkan dengan cara yang terbaik. Sekian banyak  contoh dari jidâl Al-Qur`an yang begitu halus dan baik, yang justru ditujukan kepada kaum Musyrikin di Mekkah, sehingga tentu lebih-lebih lagi terhadap Ahli Kitab yang dalam pandangan Al-Qur`an jauh lebih baik dari kaum Musyrikin.

 3.       Penutup

Demikianlah, Al-Qur`an membimbing Rasulullah shallâllah ’alayhi wa sallam dalam melaksanakan missi beliau, mengajak kepada Allah dengan cara-cara yang elegan dan bermartabat. Menghadapi mereka yang terdidik dengan baik, cendekiawan, intelektual dan pemikir; Al-Qur`an menawarkan metodologi yang sesuai dengan tingkat pendidikan mereka, yakni dengan hikmah, pemikiran yang mendalam, logika yang tertib, dan argumentasi yang qath’i. Sebaliknya, ketika menghadapi orang kebanyakan dengan tingkat pendidikan yang menengah; Al-Qur`an menawarkan metodologi yang sesuai dengan tingkat pendidikan mereka, yakni dengan metodologi al-maw’izhah al-hasanah, nasihat atau pelajaran yang baik. Dengan ungkapan, pilihan kata, kalimat dan bahasa yang komunikatif dan mudah diterima, tetapi menyentuh kalbu dan meyakinkan mereka untuk mengamalkan Islam dengan istiqamah hingga akhir hayat. Sementara itu pada bagian ketiga, ketika menghadapi kelompok yang menolak ajaran Islam, menodai kesucian Al-Qur`an dan simbol-simbol keagungan Islam, serta berusaha memutar balikan kebenaran Islam; kaum Muslimin diharapkan dapat menghadapi mereka dengan metodologi mujâdalah, diskusi, pertukaran pemikiran dan debat dengan cara yang lebih berkualitas dan lebih beretika.

Tugas pokok seorang Nabi dan Rasul adalahالتبليغ  (at-tablîgh), menyampaikan dan  الدعوة(ad-da’wah), mengajak. Menyampaikan ajaran Allah kepada umat dan mengajak umat kepada ajaran Allah. Seorang Nabi dan Rasul tidak bertanggung-jawab menjadikan umat menerima ajakan beliau sehingga menjadi  Muslim. Membuka fikiran, menggerakkan kalbu, dan mendorong seseorang mengikrarkan dua kalimat syahadat sepenuhnya merupakan otoritas Allah. Ada beberapa ayat Al-Qur`an yang menjelaskan hal ini dengan tegas, di antaranya, yang artinya:

”Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”(Q.S. Al-Ma`idah : 99)

 ”Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”  (Q.S. Al-Qashash : 56)

 Sejalan dengan penegasan Allah pada dua ayat di atas bahwa kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan ajaran Allah kepada umat, dan mengajak umat kepada ajaran Allah, maka dakwah itu di nilai sebagai sebuah perjuangan. Para pembawa missi dakwah itu adalah para pejuang. Mereka para mujahid dakwah,dimana  Seorang mujahid dakwah harus mampu membekali dirinya dengan berbagai persiapan, termasuk menguasai metodologi dakwah yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah SAW pada Surah An-Nahl ayat 125 di atas, namun yang paling penting adalah kesiapan mental untuk menghadapi kenyataan, jika dakwahnya untuk mengajak kepada Allah ditolak oleh umat.

Hanya Allah yang mengetahui potensi dan kapasitas ruhani seseorang untuk menerima ajaran Allah.Sebab yang menguasai kalbu seseorang itu hanya Allah. Allah-lah yang menggerakkan kalbu seseorang untuk menerima hidayah.

 Prinsip inilah yang diharapkan dapat mencerahkan para mujahid dakwah dan sekaligus menjadi pedoman dalam berdakwah sebagaimana termaktub pada ujung ayat yang berbunyi:

هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.  (Q.S. An-Nahl : 125)

 Manusia berkewajiban untuk berjuang, merencanakan dan melaksanakan missi para Rasul, menyampaikan ajaran Allah kepada umat, dan mengajak umat kepada ajaran Allah,akan tetapi Allah jugalah yang membukakan pintu hidayah.<+>

                                                   *Wallahua’lam bishowaab*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s