ujian dalam hidup


                                                                بسم الله الرحمن الر حيم
احسب النا س ا يتر كواان يقو لواءا منا وهم لا يفتنو ن
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah BERIMAN”, sedang mereka tidak DIUJI lagi ?”.

(QS. Al-Ankabuut: 2).

“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang yang beriman. Jika mendapat kebaikan (kemudian) ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya (kemudian) ia bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Disaat ujian/cobaan menimpa seseorang seringkali dikaitkan kepada Sang Khalik-lah yang dianggap sebagai sumber pemberi ujian/cobaan/petaka dari seseorang tersebut,sehingga timbullah kesan menjatuhkan suatu Vonis kesalahan kepada Sang Pencipta.
Disinilah seringkali kita terperdaya,hanya ingat dikala derita dan lupa dikala senang serta tidak menginstropeksi/mengevaluasi diri.padahal Allah mengatakan:
وما اصبكم من مصيبة فبما كسبت ايد يكم ويعفوا عن كثير
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.Asy-Syuraa’ : 30).
Apabila hal ini terjadi maka hilanglah makna dari (MAHA SUCI ALLAH),seharusnya kita mau berpikir panjang lagi untuk menelusuri kebelakang atau Muhasabbah(Insteropeksi diri),karena tidak mungkin ada akibat tanpa sebab.

Mungkin saja kebanyakan anggapan tersebut karena terdoktrin pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist yang mengartikan secara tersurat dan salah memahaminya, serta opini masyarakat pada umumnya.Dan tidak jarang pula saat musibah luar biasa menimpa seseorang,ia kehilangan kendali dan mencari jalan pintas mencari pelindung selain kepada ALLAH SWT.
Karena memang ada banyak faktor yang mempengaruhi emosi, intuisi, atau berbagai gejala fsikologis yang mengarah pada penyelewengan aqidah secara halus bahkan sangat halus, sehingga seolah-olah menjadi hal yang sangat biasa dan dirasa tidak menyimpang. Dalam hidup kita selalu merasa lebih banyak gagal dari pada berhasil atau sukses, lebih sering rugi dari pada untung, dan selalu tersandung ketika akan maju beberapa langkah.
Namun secara nyata atau tidak, harapan yang tak kesampaian sering membuat kita frustasi, menyesali diri, bahkan menyalahkan Allah. Jika suatu kegagalan melanda, kita merasa seolah menjadi manusia yang paling hina,nelangsa,tidak berguna.
Sebuah musibah terkadang bisa membuat kita lupa akan sejuta anugerah-NYA.Padahal itulah janji allah pada setiap hambanya yang beriman,sebagai mana sabda RosulullahSAW : “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah SWT telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah : 216). Wallahu’alambishawaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s