Ketika kemelut itu terjadi (Bag 3).


4. Mencari Penengah
  Jika konflik sudah tak bisa diatasi dengan dialog mungkin karena keduanya sudah tidak bisa berdialog meskipun mereka merasa berdialog–sementara keadaan semakin kritis dan pertengkaran semakin runcing, makakehadiran penengah yang adil sudah diperlukan. Kita mengambil penengahdari keluarga kita.

  Merekalah yang akan bertindak sebagai hakim.Allah Swt. berfirman:“Apabila kamu khawatir kesulitan di antara keduanya, maka utuslahseorang hakim dari keluarganya apabila keduanya menghendaki perdamaiandan kebaikan, maka Allah akan mndamaikan di antara keduanya.Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengetahui.”(QS. An-Nisa’: 35).

  Jadi, masing-masing mengambil penengah yang bisa diterima, penengah yang adil dan mengerti tentang keduanya serta berdiri di tengah-tengah.Artinya, dia netral dan tidak cenderung membela salah satu pihak, padahal ia belum mengetahui permasalahan diantara keduanya.

  Mengenai penengah ini, ‘Abdul Hamid Kisyik berkata, “penyelesaianakhir yang masih dapat ditempuh adalah dengan cara mendatangkan waliyulamri atau orang tua keduanya.

  Sebab, mereka inilah yang mengetahui perkaradan dapat mencari jalan pemecahannya dengan mengirim hakim (penengah)dari keluarga suami dan hakim dari keluarga istri agar mereka mempelajarikonflik yang terjadi, kemudian mendamaikan keadaan bila memungkinkanbagi keduanya.”

  Jadi, tugas saudara-saudara dan orang tua suami maupun istri bukanlah untuk mendukung sikap saudara atau anaknya, apalagi justru memberi nilai rapor yang jelek bagi ipar atau menantunya.

 Tugas mereka adalah menjadi penenang, orang yang memahami,dan syukur-syukur bisa menjadi hakim yang adil dan mengerti apa yang terbaik untuk kebaikan yang lebih tinggi bagi rumah tangga saudara dan iparnya.Jika ipar atau mertua lebih banyak memberi nilai rapor yang merah daripada menasehati dengan penuh cinta kasih dan kelembutan, maka konflik akan semakin memanas.

  Konflik ini bisa berkembang menjadi “ganjalanperasaan” antara dua keluarga besar, yaitu keluarga besar suami berikut sanak kerabatnya dengan keluarga besar istri berikut sanak kerabatnya. Boleh jadi,akhirnya tidak sekedar “ganjalan perasaan” yang ada diantara mereka.

  Dan yang sangat ironis adalah kalau sikap ipar beserta mertua inilah justru yang menjadi penyebab munculnya konflik.Ini bukan berarti saudara tidak boleh menilai iparnya dan orang tua tidak boleh mengoreksi istri anaknya.

  Tidak demikian. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang sangat prinsipil dan tidak bisa ditawar-tawar secara syar’i. tetapi tugas mereka adalah membatasi komentar negatif untuk hal-hal yang tidak begitu penting, terutama untuk hal-hal yang tidak menjadi kewajiban mereka.

5. Berpolygami
  Pada titik tertentu, sabar dalam perkara nikah jg bisa berarti keikhlasan utk BERPOLIGAMI demi mencapai kebaikan tertinggi.Sebagaimana Allah tdk menyukai kekerasan dan penganiayaan, tetapi pada saatnya berperang merupakan bentuk kesabaran yg plg tinggi nilainya.

  Perceraian adalah sesuatu yg halal tetapi dibenci oleh allah,bahkan dapat menggetarkan Aras’y .dan poligami adalah salah satu bentuk jalan keluar yg terbaik dari Allah SWT,bila semua syaratny dpt dipenuhi oleh suami.

Hal ini pun jika suami menghendaki untuk berpoligami,memang bicara mengenai ini belum tentu semua wanita dpt menerimanya,sebab sngt berat membagi sesuatu yg dimiliki pada orang lain,inilah satu lagi pembuktian yg allah inginkan dari hambanya ketika mendapat ujian,semakin jauh /semakin dekat dari –NYA(ketaatan).

  Nikah & poligami adalah syariat yg Allah berikan,Nikah adalah kewajiban mutlak sdg Pologami syariat yg diperbolehkan dgn syarat tertentu.manakah yg lebih baik solusi,firman Allah :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs al ahzab:36)<<D>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s