“Bangkrut dech….”(Ghibah)


Itulah ungkapan yg keluar dr mulut  org yg mengalami kerugian….tapi rugi yang sebenarnya itu apasiiih????

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka.       (( HR. Muslim ))

  Tayangan infotainment setiap hari menyuguhka beragam berita,baik politik,hiburan ,dan bepuluh2 judul film serta sinetron.Ada yg tdk kalah menarik  ketika pemirsa disugukan dgn sebuah tayangan,dimana pemirsa diajak untuk mendengar,yg kadang sacara sadar /ga sadar berita itu menjadi bahan perbincangan di kala kumpul dengan rekan alias ngerumpi….’’eh jeng/mbak/mas/dek si anu katanya…..”.”artis anu..ko hamil duluan ya…./kadang apa yg di bicarakan dilebih2kan,.lebih menarik lagi sang pembawa acara sengaja mengorek–orek keburukan sang”mangsa” utk disajikan ke public..Ya itulah potret  dunia persilatan manusia sekarang….senang bergunjing.

    Lalu apa pandangan agama tentang hal ini?….

Kata Menggunjing atau Ghibah diartikan sebagai suatu perkataan mengenai suatu keadaan yang terdapat pada seseorang yang diceritakan kepada orang lain di mana hal tersebut sebenarnya sesuatu yang sangat tidak disukai orang tersebut. Jika hal tersebut benar adanya terdapat pada orang yang diceritakan keadaannya, maka si pencerita berarti telah menggunjing orang yang diceritakannya.

    Namun jika hal tersebut tidak benar adanya, maka ia telah menfitnah orang tersebut. Hal ini sebagaimana hadits yang diiriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan menggunjing?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda,“Engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.”Dikatakan, “Bagaimana pendapatmu apabila apa yang aku katakan memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “Apabila apa yang kamu katakan itu memang ada pada dirinya berarti engkau telah menggunjingnya dan apabila apa yang katakan itu tidak benar berarti kamu telah memfitnahnya,” (HR. Muslim)

   Pada ayat-ayat Al Qur’an maupun Hadits Rasulullah saw, menggunjing atau ghibah sungguh dilarang untuk dilakukan oleh seorang mukmin. Larangan ini begitu keras hingga untuk hanya berprasangka saja merupakan perbuatan yang dilarang. Perbuatan menggunjing di sini ialah termasuk mengumpat maupun mencela orang lain dengan menceritakan kejelekan ataupun keadaan orang tersebut kepada yang lain. Beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang berkenaan dengan menggunjing antara lain:

1. Menggunjing itu seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati.
Dalam surah Al Hujurat ayat 12, Allah swt menegaskan,

أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه 

“Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”(srt al hujurat ayat 12)

2. Menggunjing termasuk menyampaikan cerita-cerita bohong tentang orang lain.

Dalam surah An Nuur ayat 15, Allah swt berfirman,

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَ تَقُولُونَ بِأَفْواهِكُمْ ما لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَ تَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَ هُوَ عِنْدَ
اللهِ عَظيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah benar”.

3. Menggunjing termasuk perbuatan zalim
Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah swt dalam surah Al Hujurat ayat 11 yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan)lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim“

   Sebagaimana diharamkan seseorang melakukan ghibah dan mendengarnya, diharamkan juga mendengarkannya dan mendiamkan perbuatan tersebut. Oleh karena itu wajib membantah orang yang melakukannya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’ dari Nabi saw. bersabda,

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya maka Allah menghalangi wajahnya dari api neraka di hari kiamat,” (HR. Tirmidzi)

   Orang yang senantiasa mengumpat orang lain dan mencari-cari kesalahannya akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang berat. Yakni mencakar-cakar muka dan dada sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga. Hal ini sebagaiamana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

“Ketika aku dim’rajkan, aku melintasi suatu kaum yang memiliki kuku terbuat dari tembaga sedang mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya, ‘Siapa mereka wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka yang memakan daging manusia dan melanggar kehormatan mereka‘,” (Shahih, HR Abu Dawud)

   Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajak bicara akal, hati, perasaan dan jiwa, akhlak dan pendidikan. Agama yang mulia ini menggariskan adanya peraturan-peraturan agar seorang muslim dapat memiliki hati yang selamat, perasaan yang bersih, menjaga kehormatan lisan, dan menjaga rahasia pribadinya, serta dapat berakhlak mulia terhadap Rabb-nya, dirinya dan seluruh manusia

   orang-orang mukmin terlebih dahulu meneliti setiap kabar yang sampai kepada mereka sebelum mereka mengatakan itu kepada yang lain. Hingga setiap perkataan seorang mukmin dapat dijamin kebenarannya, sehingga fitnah dapat dihindari. Dalam sebuah ayat Al Qur’an, Allah swt berfirman,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”. (QS. Al Israa’ : 36)

   Lalu tinggal bagaimana kita sbg pribadi muslim sekarang ini menyikapinya…pilihan ada ditangan kita.ingin jadi orang yg bangkrut / tidak ,,,janji allah itu pasti….

Walloohu a’lam ..

semoga allah memberikan kekuatan pada kita  utk menghindarkan diri dari  perbuatan ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s